When February meets March
Mengagumkan melihat sebuah buku menjadi suatu mesin waktu yang benar-benar berfungsi sebagai denotasi untuk memutar balik monokrom-monokrom di kepalaku. Tidak terasa kisah itu sudah terlewati cukup lama. Aneh, kupandangi ke belakang dan rasanya tidak sesakit kemarin. Mungkin resistensi hatiku berkembang sekarang rasanya sekedar dicubit dengan gunting kuku kali ya, haha. Kuraba lukaku mulai mengering meski sesekali ia masih meneteskan air mata.
Setiap perjalanan telah mengajarkan banyak hal pada diriku. Apa yang sudah kulalui memberikan pesan tentang apa arti hidup yang selama ini kupertanyakan. Yaitu, tentang bagaimana cara kita merespon keinginan Tuhan.
Bagiku dia adalah bagian dari hidup ku, bagian dari masa lalu sekaligus kenanganku. Seseorang yang pernah sudi menekan tombol motivasi yang sudah tidak sempat berfungsi. Ia perkenalkan ku banyak hal. Akrabkan ku pada banyak rasa. Ia adalah sosok yang pernah paling aku idam-idamkan di muka bumi ini.
Walaupun dalam tahapku yang sekarang, berdusta jika kubilang melihat nya dipinang orang lain akan tetap membuat ku baik-baik saja. Mustahil rasa sakit nya hilang total. Meski ikhlas, bukankah hati sejatinya memiliki hak nya untuk tergores? Sebagaimana mata memiliki haknya untuk menangis. Goresan itu akan selalu timbul, serasa duri-duri yang menancap di sekujur badan. Air mata akan jua bertumpah. Layaknya angin musim yang mengiringi bahtera. Namun, kebersyukuran adalah hak jiwa. Bersyukur semuanya telah terjadi dan menyisahkan sebuah hikmah untuk dipelajari demi menghadapi hari esok.
Allah pertemukan kami di atas takdir Nya. Dan pisahkan kami di atas takdir Nya pula. Pada garis takdir Nya pula telah kucurahkan segala usaha. Akan hasil akhir meski tak sesuai ekspestasi, aku yakin Allah menyimpan sesuatu untukku di luar sana bersama nya ataupun tanpa nya, pada masanya yang akan datang. Yang ku tahu Tuhan ku maha penyanyang nan maha pemurah. Selalu ada kasih, selalu ada sayang, selalu ada cinta yang diberi Tuhan meski belum sepenuhnya mampu kurasa.
Mungkin nanti atau mungkin lain kali. Sedikitnya ku tersadar pengalaman hari ini adalah sebagai komponen sekaligus prasarana untuk menyambut rahasia tersebut.
Kututup kembali buku itu, kemudian meletakkannya ke persinggasanaannya yang terakhir. Hari ini bumi kembali berevolusi dengan semestinya, berotasi dengan dia yang tak lagi sebagai porosnya. Sulit! Tapi aku bisa belajar.
Sayangnya larut malam tidak bisa melarutkan apapun, kecuali waktu.
Mustofa Khobir

Yoyoyoyoy
ReplyDeleteHiya hiya
ReplyDelete